Ekonomi Amerika Serikat kian terbelah antara mereka yang mampu dan tidak. Lonjakan inflasi yang dipicu tarif impor Presiden Donald Trump mulai merambat ke rak-rak supermarket dan toko pakaian, menekan kelompok berpendapatan rendah dan menengah.
Data Departemen Tenaga Kerja menunjukkan harga barang-barang yang terdampak tarif naik pada Agustus: pakaian melonjak 0,5% dari bulan sebelumnya, sementara harga kebutuhan pokok termasuk kopi naik 0,6%. Meski inflasi masih jauh dari puncaknya, banyak warga sudah merasakan beban.
Yanique Clarke, mahasiswa keperawatan di Manhattan, mengeluhkan harga daging, sayuran, dan buah yang “drastis tinggi”. Belanja perlengkapan sekolah untuk putrinya pun jauh lebih mahal dibanding tahun-tahun lalu. Keluhan serupa disampaikan Nancy Garcia, pekerja di industri penerbitan, dan Sylvia Sealy, perawat paruh waktu, yang kini harus lebih sering membandingkan harga sebelum membeli.
Ekonom Ernie Tedeschi dari Yale Budget Lab menilai rumah tangga berpenghasilan rendah paling rentan. Mereka menghabiskan lebih banyak anggaran untuk barang impor murah—jenis produk yang paling terdampak tarif. Laporan Yale menunjukkan harga barang inti kini 1,9% di atas tren pra-2025, termasuk tirai, peralatan rumah tangga, dan elektronik.
Sementara itu, CEO McDonald’s Chris Kempczinski menyebut kondisi ini menciptakan “ekonomi dua tingkat”. Konsumen kaya masih belanja bebas, tetapi yang lain semakin tertekan, mendorong jaringan restoran itu memperluas menu hemat.
Studi Boston Federal Reserve juga menemukan utang kartu kredit rumah tangga menengah dan bawah kini lebih tinggi daripada sebelum pandemi, menandakan daya beli kelompok ini semakin rapuh.
“Secara keseluruhan konsumen masih bertahan,” ujar Ryan Sweet, Kepala Ekonom AS Oxford Economics. “Namun ketika lapisan demi lapisan dikupas, terlihat jelas konsumen Amerika sangat terbelah.”
(300 kata)



Comment