Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan langkah besar terkait masa depan TikTok di negeri Paman Sam. Algoritma rekomendasi aplikasi berbagi video asal Tiongkok itu akan disalin dan dilatih ulang menggunakan data pengguna AS sebagai bagian dari kesepakatan agar aplikasi tidak dilarang beroperasi.
Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan, algoritma TikTok akan diaudit oleh raksasa teknologi Oracle. Nantinya, pengelolaan sistem ini akan dilakukan melalui usaha patungan baru yang melibatkan investor AS, untuk memenuhi persyaratan penjualan dari induk perusahaan asal Tiongkok, ByteDance.
Langkah ini diambil setelah Presiden Donald Trump memastikan adanya kesepakatan yang disetujui Tiongkok untuk mencegah pelarangan TikTok. Gedung Putih menilai kesepakatan ini akan menjadi “kemenangan” bagi pengguna dan warga AS. Trump diperkirakan segera menandatangani perintah eksekutif yang memberikan tenggat 120 hari untuk merampungkan transaksi tersebut.
Meski persetujuan resmi dari pemerintah Tiongkok masih belum jelas, Washington yakin kesepakatan ini sudah mendapat lampu hijau. Saat ini, data sekitar 170 juta pengguna TikTok di AS telah disimpan di server Oracle melalui skema Project Texas, yang sebelumnya dirancang untuk mencegah potensi akses pemerintah Tiongkok.
Oracle bukan pemain baru dalam isu ini. Perusahaan milik Larry Ellison tersebut telah mencatat lonjakan permintaan layanan komputasi awan dari perusahaan AI, mendorong valuasi sahamnya meroket. Selain Oracle, firma ekuitas Silver Lake juga disebut terlibat dalam kesepakatan ini.
Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa perubahan algoritma khusus untuk pengguna AS berisiko menurunkan pengalaman pengguna. Jasmine Enberg, analis eMarketer, menilai pemisahan konten dari komunitas global bisa membuat nilai TikTok merosot bagi kreator, merek, maupun investor.



Comment