Dalam politik, kepentingan selalu lebih abadi daripada prestasi. Sri Mulyani Indrawati, menteri keuangan yang dielu-elukan dunia sebagai simbol stabilitas fiskal, justru menjadi “dosa” di mata Presiden Prabowo Subianto. Bukan karena salah hitung anggaran, tetapi karena kehadirannya dianggap terlalu besar, terlalu kuat, dan terlalu erat dengan masa lalu Jokowi.
Bagi Prabowo, simbol lebih penting dari substansi. Sri Mulyani dianggap wajah globalisasi, disiplin fiskal, dan warisan teknokrat lama. Ketika protes publik soal tunjangan DPR memuncak, ia pun menjadi kambing hitam yang paling mudah disalahkan. Popularitasnya di mata internasional bahkan lebih tinggi dari seorang presiden dan itu berbahaya bagi logika politik komando tunggal.
Maka, dosa terbesar Sri Mulyani bukanlah defisit atau kebijakan fiskal, melainkan keberadaannya sendiri. Dalam politik, kesetiaan lebih penting daripada kecerdasan.
Selengkapnya tonton video editorial di bawah ini:



Comment