Presiden Prabowo Subianto menolak disebut takut kepada Joko Widodo. Ia menegaskan bahwa hubungan keduanya adalah hubungan saling menghormati antara dua tokoh yang sama kuat. Namun publik sulit menafsirkan pernyataan itu tanpa rasa ragu, sebab arah kebijakan pemerintahan Prabowo justru banyak mengikuti pola yang diwariskan oleh Jokowi. Dalam hampir setiap keputusan strategis, mulai dari hilirisasi industri, pembangunan Ibu Kota Nusantara, hingga pendekatan politik luar negeri, jejak Jokowi masih tampak begitu jelas.
Kita tentu bisa memahami alasan pragmatis di balik pilihan itu. Negara ini membutuhkan stabilitas, dan kesinambungan kebijakan sering dianggap lebih aman daripada perubahan mendadak. Tetapi ketika kontinuitas dijalankan tanpa koreksi, ia perlahan bergeser menjadi ketergantungan. Pemerintahan baru yang semestinya membawa visi segar justru terlihat berhati-hati, seolah takut melangkah keluar dari bayangan figur yang dulu menjadi rival politik.
Di balik penegasan bahwa ia tidak takut, tersimpan persoalan yang lebih dalam: apakah Prabowo sungguh berdaulat dalam kekuasaan yang ia pimpin, atau ia masih terikat pada konsensus lama yang dibentuk oleh Jokowi? Pertanyaan ini tidak lahir dari prasangka, melainkan dari kenyataan politik yang tampak di permukaan. Banyak wajah lama yang kembali mengisi kabinet, banyak kebijakan lama yang dijaga tanpa evaluasi berarti, dan banyak kepentingan lama yang tetap beroperasi dengan nyaman. Dalam sistem seperti ini, perubahan hanya menjadi slogan, bukan gerak nyata.
Kemandirian kepemimpinan tidak diukur dari seberapa keras seseorang menolak disebut takut, melainkan dari seberapa berani ia membuat keputusan yang tidak populer. Prabowo kini memegang kesempatan langka untuk menulis bab baru sejarah Indonesia, tetapi kesempatan itu hanya bisa diambil jika ia berani keluar dari orbit Jokowi. Sebab setiap pemimpin besar pada akhirnya diuji bukan oleh siapa yang ia lawan, melainkan oleh siapa yang tidak berani ia tinggalkan.
Publik tidak menuntut konfrontasi antara presiden dan mantan presiden. Yang diharapkan adalah kepemimpinan yang berani berpikir dengan kepala sendiri, menilai dengan nurani sendiri, dan bertindak dengan tanggung jawab sendiri. Bila semua kebijakan hanya diteruskan tanpa penilaian kritis, maka pemerintahan ini akan tampak seperti kelanjutan administratif dari era sebelumnya, bukan awal dari sesuatu yang baru.
Prabowo mungkin benar bahwa ia tidak takut pada Jokowi. Tetapi keberanian bukan diukur dari penolakan verbal, melainkan dari kemampuan untuk menegakkan arah sendiri, meski berisiko tidak disukai oleh kekuatan lama yang dulu mengangkatnya. Karena jika seluruh langkah tetap diatur oleh logika kesinambungan tanpa refleksi, maka pemerintahan ini bukanlah cerminan keberanian, melainkan tanda halus dari ketaklukan yang disamarkan dengan kata “loyalitas”.
Pada akhirnya, sejarah tidak menilai siapa yang paling hormat, tetapi siapa yang paling berani berdiri tegak di antara bayang-bayang. Dan sejauh ini, bayangan Jokowi masih terlalu panjang bagi Prabowo untuk bisa disebut benar-benar bebas darinya.



Comment