Kongres Nasional Indian Amerika (NCAI) dengan keras mengecam keputusan Pentagon yang menolak mencabut medali penghargaan militer bagi tentara AS yang terlibat dalam Peristiwa Wounded Knee tahun 1890—yang oleh banyak sejarawan dianggap sebagai pembantaian.
“Merayakan kejahatan perang bukanlah patriotisme. Keputusan ini merusak upaya untuk mengatakan kebenaran, rekonsiliasi, dan penyembuhan yang masih dibutuhkan Indian Country maupun Amerika Serikat,” kata Larry Wright Jr, Direktur Eksekutif NCAI dalam pernyataan Sabtu (27/9).
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth—yang ditunjuk Presiden Donald Trump—mengumumkan melalui video di X bahwa dirinya mengikuti rekomendasi panel kajian tahun lalu untuk mempertahankan medali tersebut. “Mereka layak mendapat medali itu. Keputusan ini final dan tidak lagi bisa diperdebatkan,” ujarnya. Ia juga mengkritik pendahulunya yang dianggap lebih “politis ketimbang historis”.
Pembantaian Wounded Knee
Peristiwa Wounded Knee terjadi pada 29 Desember 1890 di South Dakota, ketika tentara AS menewaskan lebih dari 300 laki-laki, perempuan, dan anak-anak Lakota Sioux. Tragedi itu menandai berakhirnya Indian Wars, periode ketika masyarakat asli dipaksa menyerahkan tanah mereka dan ditempatkan di reservasi.
Mantan Menhan Lloyd Austin, di era Presiden Joe Biden, sebelumnya memerintahkan peninjauan ulang penghargaan militer tersebut, namun belum mengambil keputusan final hingga ia meninggalkan jabatan Januari lalu.
Kongres AS sendiri pada 1990 telah mengeluarkan resolusi yang menyatakan “penyesalan mendalam” kepada masyarakat Sioux, khususnya para keturunan korban dan penyintas.
Kontroversi ini muncul di tengah langkah Hegseth yang juga memangkas program keberagaman di Pentagon, termasuk penghentian peringatan Native American History Month. Awal tahun ini, Pentagon bahkan menuai kecaman karena sempat menghapus referensi daring tentang Navajo Code Talkers, para pahlawan Perang Dunia II.



Comment