Indonesia sering dielu-elukan sebagai negeri dengan sejuta pesona, tapi di balik keindahan itu ada julukan pahit: negeri para koruptor. Julukan ini muncul bukan tanpa alasan. Hampir setiap hari berita korupsi menghiasi layar televisi dan media sosial, dari pejabat tinggi hingga aparat kecil di pelosok desa.
Korupsi di Indonesia bukan lagi sekadar kasus individu, melainkan budaya. “Uang pelicin”, “uang rokok”, hingga “biaya tambahan” menjadi wajah sopan dari perilaku tercela. Ketika hal kecil dianggap wajar, tak heran bila di level kekuasaan lebih tinggi, korupsi justru dianggap hak.
Ironinya, negeri kaya sumber daya ini tetap dihuni rakyat miskin. Anggaran yang seharusnya membangun sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur justru bocor di jalan. Demokrasi pun ikut tercemar: biaya politik mahal melahirkan pejabat yang berlomba menutup modal lewat praktik kotor.
Korupsi bukan takdir, tapi pilihan. Dan pilihan itu harus dilawan, jika kita tak ingin selamanya dikenal sebagai negeri para koruptor.
Selengkapnya tonton video editorial di bawah ini:



Comment