Edisi 2025 Vuelta a España akan dikenang bukan karena prestasi olahraga, melainkan karena protes pro-Palestina yang mengguncang jalannya balapan. Aksi demonstrasi yang awalnya kecil dan damai berubah menjadi eskalasi besar setelah tim Israel Premier-Tech (IPT) tetap melanjutkan keikutsertaan mereka.
IPT dimiliki oleh miliarder Kanada-Israel Sylvan Adams, yang dikenal sebagai pendukung besar Israel dan pernah membawa Giro d’Italia 2018 ke Yerusalem. Kehadiran tim ini memicu gelombang protes di berbagai kota Spanyol sepanjang Vuelta. Demonstran memblokir jalan, merobohkan barikade, bahkan memaksa dua etape dibatalkan dan dua lainnya dipersingkat.
Situasi semakin berbahaya ketika paku payung ditebar di jalan, menyebabkan dua pembalap terjatuh, salah satunya Javier Romo yang akhirnya mundur dari balapan. Aksi ini dianggap melewati batas, menambah risiko dalam olahraga yang sudah berbahaya.

Manajer Visma-Lease a Bike, Richard Plugge, menegaskan bahwa olahraga seharusnya menjadi jembatan persatuan, bukan ajang pertaruhan nyawa akibat konflik politik. Namun kenyataannya, balapan berlangsung dalam ketidakpastian, hingga etape terakhir di Madrid pun terpangkas dan podium pemenang Jonas Vingegaard terpaksa digelar di tempat parkir hotel.
Kasus ini menjadi titik balik bagi dunia balap sepeda. Dengan terbukti efektifnya protes mengganggu jalannya lomba, penyelenggara kini dihadapkan pada dilema besar: meningkatkan keamanan dengan konsekuensi hilangnya atmosfer khas balapan jalan raya. Model balapan sirkuit tertutup atau sistem tiket bisa menjadi tren masa depan, meski berpotensi mengurangi daya tarik olahraga ini.
Selain itu, kontroversi sponsor politik dan negara di tubuh olahraga kembali mencuat. Namun, dengan banyaknya tim besar yang dibiayai oleh negara atau konglomerat kontroversial, perubahan tampaknya masih jauh dari kenyataan. Vuelta 2025 pun menjadi penanda era baru: balap sepeda kini tak lagi bisa lepas dari geopolitik global.



Comment