Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melakukan kunjungan kenegaraan ke Inggris pekan ini, enam tahun setelah kunjungan pertamanya pada 2019 yang penuh kontroversi. Saat itu, Trump sempat menyerang Wali Kota London Sadiq Khan, mendukung Boris Johnson dalam perebutan kursi pimpinan Partai Konservatif, hingga menyebut NHS layak dimasukkan dalam agenda dagang AS-Inggris. Aksi protes besar dan balon raksasa “Trump Baby” ikut mewarnai kunjungan tersebut.
Kunjungan kedua ini, yang jarang diberikan kepada tokoh non-royal, juga diperkirakan tidak kalah kontroversial. Protes sudah direncanakan, sementara pemecatan Lord Mandelson dari jabatan Duta Besar Inggris untuk AS karena kedekatannya dengan Jeffrey Epstein menambah bayangan diplomatik.
Fokus utama kunjungan selama dua hari di Windsor adalah seremoni megah: 1.300 pasukan, 120 kuda, parade militer, hingga jamuan kenegaraan di St George’s Hall. Rencana detail termasuk penempatan kursi di jamuan hingga menu yang menyinggung warisan Skotlandia Trump. Meski padat simbolik, kunjungan ini tidak mencakup pidato di parlemen atau pertemuan di Downing Street.
Namun di balik kemeriahan, ada agenda serius: pembebasan tarif baja dan aluminium Inggris, kerja sama nuklir sipil, serta perjanjian teknologi yang mencakup investasi AI dan komputasi kuantum. Perdana Menteri Keir Starmer juga berharap memanfaatkan momentum ini untuk memengaruhi posisi Trump terkait Ukraina.
Tetapi risiko politik tetap besar. Trump tidak populer di Inggris, sementara perbedaan kebijakan antara kedua negara terutama soal Palestina yang berpotensi menimbulkan ketegangan. Pemerintah Inggris harus menjelaskan pada publik bahwa “harga” kunjungan penuh simbol ini sepadan dengan peluang ekonomi dan geopolitik.



Comment