Indonesia mencatat sejarah diplomatik baru dengan posisi pidato yang lebih awal dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) di New York. Biasanya, perwakilan Indonesia berbicara di urutan lebih belakang. Presiden pertama RI, Soekarno, pernah menyampaikan pidato pada urutan ke-46. Sementara itu, para penerusnya seperti Soeharto, Megawati Soekarnoputri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono pernah mendapat giliran antara urutan ke-16 hingga ke-61.
Pada era Presiden Joko Widodo, Indonesia sempat lebih konsisten berada di slot ke-16. Namun, pidato Jokowi dua kali disampaikan secara virtual akibat pandemi Covid-19. Selebihnya, partisipasi Indonesia di forum tersebut dilakukan oleh wakil presiden atau para menteri.
Kini, Presiden Prabowo Subianto menorehkan catatan penting. Ia menjadi presiden Indonesia pertama dalam satu dekade terakhir yang kembali hadir secara langsung dan menyampaikan pidato di hadapan Majelis Umum PBB. Kehadirannya bukan hanya menandai kembalinya Indonesia ke panggung diplomasi tingkat tinggi secara penuh, tetapi juga memperlihatkan tekad pemerintahan baru untuk lebih aktif dalam percaturan global.
Posisi pidato yang lebih strategis ini dinilai memberi keuntungan simbolis dan praktis bagi Indonesia. Dengan berbicara lebih awal, pesan diplomasi Indonesia akan memiliki jangkauan yang lebih besar serta mendapat perhatian lebih dari dunia internasional.
Langkah ini dipandang sebagai momentum bagi Indonesia untuk menegaskan posisinya sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia sekaligus kekuatan penting di kawasan Indo-Pasifik. Diplomat menilai, kesempatan ini bisa menjadi batu loncatan bagi Indonesia dalam memperkuat peranannya di isu-isu global seperti keamanan, pembangunan berkelanjutan, serta perubahan iklim.



Comment