Pencopotan Sri Mulyani Indrawati dari kursi Menteri Keuangan menutup satu bab penting dalam sejarah ekonomi-politik Indonesia. Ia bukan sekadar pejabat, melainkan simbol kredibilitas fiskal dan disiplin anggaran yang dihormati pasar global. Namun simbol pun bisa runtuh ketika logika politik lebih keras daripada logika angka.
Indonesia kembali menyaksikan ironi klasik: seorang teknokrat berkelas dunia, dipuji internasional karena menjaga APBN tetap sehat bahkan di masa pandemi, justru tersingkir bukan karena gagal, melainkan karena konstelasi politik menghendaki pergantian. Pasar pun bereaksi cepat—IHSG jatuh, rupiah melemah, investor cemas. Hilangnya figur “brand name” yang diasosiasikan dengan kehati-hatian fiskal memunculkan pertanyaan: apakah kebijakan ekonomi Indonesia masih konsisten, ataukah belanja negara akan lebih longgar demi akomodasi politik?
Sejarah membuktikan teknokrat selalu rapuh di tengah pusaran kuasa. Sri Mulyani pernah mengalaminya pada 2010, kini kembali 2025. Pertanyaannya, jika sosok dengan reputasi global bisa disingkirkan begitu mudah, siapa yang bisa menjamin arah kebijakan tetap rasional? Editorial ini tidak meratapi seorang tokoh, melainkan mengingatkan: ketika politik mengalahkan angka, yang dipertaruhkan bukan sekadar kursi menteri, melainkan masa depan kepercayaan publik dan kestabilan ekonomi bangsa.
Selengkapnya, tonton video editorial berikut:



Comment